• 03Feb
    Categories: Writing Comments: 0

    Malam mulai merambat mendekap kota Jakarta, menebar kegelapan, menutupi segala gairah manusia yang menyebar sejak pagi buta, berlalu-lalang di penjuru Ibu Kota.

    Tapi, manusia itu terlalu angkuh untuk tunduk kepada gelapnya malam, mereka berlomba dengan waktu untuk memenuhi hasrat yang selalu muncul, bagaikan buih dari deburan ombak. Mereka bersekutu dengan lampu untuk menggantikan sang mentari yang selalu tunduk pada sang Maha Pengatur. 

    Mereka membuat kegaduhan seakan malam tidak pernah melalui dirinya, berpura-pura ketika badannya ingin tunduk dan ikut sang malam. Mengaso seiring dengan eratnya rengkuhan malam.

    Sebagian dari mereka menikmati keadaan itu, entah karena harus atau terbiasa.

    Sebagian dari mereka tersiksa dan ingin kembali bercengkrama dengan sang malam sesuai dengan kodratnya, menikmati halusnya keheningan yang merambat menentramkan jiwa, berbaring untuk membiarkan seluruh organ tubuh menikmati masa-masa berharganya.

    Sebagian dari mereka telah berhasil mengalahkan sang penguasa keinginan itu, bercengkrama dengan syahdunya malam dan tinggal dalam surga di bawah atap rumahnya, berpelukan dengan anak yang selalu di cintainya, didampingi sang istri, seakan bidadari baginya. Bercengkrama sambil dipeluk erat sang malam, dalam hening dan damai.

  • 24Dec
    Categories: Writing Comments: 0

    Mungkin bagi sebagian orang akan merasa ganjil jika berada di dunia ini, dunia dimana semua orang mempunyai kepala batu, Ya.. kepala yang terbuat dari batu. Aku menyangka kepala batu adalah hal khiasan yang dibuat oleh para orang tuaku dulu untuk orang yang susah dikasih tahu orang lain. Sekarang, setelah pernah masuk di dunia ini, aku jadi tahu. Mungkin para orang tuaku dulu pernah berada disini juga, ketika mereka kembali bersamaku, mereka mengatakan kepala batu ini yang masih aku anggap istilah sampai beberapa saat yang lalu.

    Di sana, setiap orang sudah terbiasa dengan hal ini, sehingga mereka tidak mempunyai perasaan yang aneh. Mereka berprilaku yang sama, sama persis dengan perkataan orang tuaku dulu, jika orang lain melarang dia untuk melakukan sesuatu, atau memberitahu bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang tidak baik, maka mereka dengan serta merta tidak mengindahkannya, paling-paling hanya senyum-senyum dan masih melakukan hal itu.

    Read more »