<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Deden Sansan Hasanudin &#187; Celoteh</title>
	<atom:link href="http://www.hasanudin.name/category/mindical/celoteh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hasanudin.name</link>
	<description>Tulisan seorang deden</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 23:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Sepeda A Story By Me</title>
		<link>http://www.hasanudin.name/2010/07/sepeda-a-story-by-me/</link>
		<comments>http://www.hasanudin.name/2010/07/sepeda-a-story-by-me/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 06:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[B2W]]></category>
		<category><![CDATA[Bike To Work]]></category>
		<category><![CDATA[Bycicle]]></category>
		<category><![CDATA[Sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hasanudin.name/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Pernah saya mendengar tentang sekumpulan orang yang ke kantor memakai sepeda. Ada yang dari rumah ke kantor dan ada juga dari rumah ke stasiun dan stasiun kantor. Tidak pernah terbayangkan, bahwa akan ada orang yang berkantor di jakarta, bekerja sebagai penyumbang jalur nadi perekonomi negara, dengan kemampuan tidak hanya membeli kendaraan bermotor biasa, bahkan sekelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah saya mendengar tentang sekumpulan orang yang ke kantor memakai sepeda. Ada yang dari rumah ke kantor dan ada juga dari rumah ke stasiun dan stasiun kantor. Tidak pernah terbayangkan, bahwa akan ada orang yang berkantor di jakarta, bekerja sebagai penyumbang jalur nadi perekonomi negara, dengan kemampuan tidak hanya membeli kendaraan bermotor biasa, bahkan sekelas mobil mewah sekalipun mereka bisa, dan, mereka pergi ke kantor bersepeda! Kalau dulu dikampung mungkin saya maklumi, karena memang begitulah, kendaraan yang ada hanya sepeda, itu juga sudah mewah, kaki adalah kendaraan kami kemana-mana bahkan sampai puluhan kilo.</p>
<p>Saya masih berpikir bahwa mereka yang bersepeda khusus orang-orang yang jarak kantor dan rumahnya hanya beberapa kilo. Kedua kalinya pendapat saya salah, jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke kantor dengan bersepeda ada yang sampai 30 km, jarak yang sangat fantastik bagi orang yang tidak biasa bersepeda. Setelah selesai menempuh jarak setengah dari itu saja mungkin Anda akan terguling ketika turun tangga, otot paha dan bagian dengkul akan terasa lemas ketika Anda mengayuh sepeda dengan jarak sedemikian jauhnya, bagi Anda yang belum terbiasa tentunya.</p>
<p><strong>Pergeseran Nilai</strong><br />
Banyak hal yang telah bergeser dari waktu ke waktu, dulu Pasar identik dengan kumuh, bau dan berantakan. Sekarang pasar yang sudah modern merupakan tempat yang bisa dijadikan tempat jalan-jalan keluarga, tempat yang mempunyai hal yang prestisius ketika kita ke sana, bahkan bisa dijadikan tempat <em>nongkrongnya </em>anak-anak muda.</p>
<p>Pergeseran seperti ini terjadi juga terhadap bersepeda, sekarang sepeda sudah menjadi gaya hidup, naik tingkat dari asalnya alat transportasi sederhana menjadi suatu image yang menempel terhadap orang yang memakainya. Sepeda sekarang bisa dilihat dari berbagai macam aspek yang tidak kalah menarik.</p>
<p><span id="more-105"></span>Sepeda sebagai alat olah raga. Pergeseran ini yang sangat bisa dilihat dimasyarakat, dengan bersepeda selain kita bisa pergi ke suatu tempat, kita juga menggerakan otot-otot kaki untuk mengayuh sepeda itu dan badanpun akan menerimanya sebagai olah raga yang sangat efektif bagi tubuh. Dulu, orang tidak menganggap bersepeda itu sebagai olah raga mereka bersepeda sebagai pilihan untuk sampai ke tempat tujuan, adapun keringat yang mengucur adalah sebagai jerih payang yang harus di korbankan. Sekarang, banyak pilihan untuk sampai ke tempat tujuan selain sepeda, yang tentu lebih nyaman dan tidak menguras energi. Bagi orang yang bersepeda sekarang, keringat yang dikeluarkan adalah pilihan bukan lagi pengorbanan.</p>
<p>Sepeda sebagai penyelamat dunia dari kehancuran. Mungkin ini yang sangat fantastik dari sekian banyak hal yang menempel terhadap sepeda sekarang. Sudah cukup lama kita dikejutkan dengan kabar yang satu ini, Dunia sedang dalam kehancuran! Dari orang-orang biasa sampai mantan wakil presiden negara adidaya mengabarkan hal ini, dan yang meresponse tentu saja banyak dan beragam, ada yang mencibir bahkan sampai ada yang paranoid. Sepeda yang bisa membawa kita ke suatu tempat dengan waktu yang relatif cepat menjadi cara yang dianggap bijak untuk mengurangi kerusakan Bumi yang kita cintai ini, memang tidak sekaligus, tapi jika semua orang sadar mungkin kendaraan yang mengeluarkan emisi akan mulai ditinggalkan dan dipakai hanya untuk saat-saat perlu saja.</p>
<p>Sepeda sebagai tali pemersatu. Pemakai sepeda sekarang masih dapat digolongkan terhadap kaum minoritas, tidak ada ruginya berada dalam posisi tersebut, malah mendatangkan keuntungan, dengan tidak umum dilihat orang maka orang-orang yang mempunyai kesenangan bersepeda jadi mudah dikenali. Cerita dari teman yang sedang melakukan touring bersepeda melintasi pulau jawa, dia mendapatkan teman ketika secara tidak sengaja bertemu dan ngobrol, bahkan sampai bisa bermalam di rumah teman yang baru kenal tersebut. Tidak sedikit pula berbagai komunitas sepeda di sekitar kita yang terlihat sangat erat tali pertemanan diantara mereka.</p>
<p>Sepeda sebagai prestige. Pilihan ini mungkin yang terakhir saya pilih, karena sekarang sepeda bukan lagi barang murahan yang biasa tergolek begitu saja di belakang rumah atau di gudang, kehujanan, tidak dianggap (maaf untuk sepedaku dulu sampai gak tau rimbanya dimana). Sekarang sepeda sudah bisa menyaingi harga kendaraan bermotor dengan berbagai kemewahan yang dimilikinya. Tidak jarang harga sepeda bisa menyaingi harga mobil yang dusah dilengkapi berbagai kenikmatan waktu mengendaranya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hasanudin.name/2010/07/sepeda-a-story-by-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Hanya Disuruh Untuk Berakhlak Baik</title>
		<link>http://www.hasanudin.name/2009/02/kita-hanya-disuruh-untuk-berahhlak-baik/</link>
		<comments>http://www.hasanudin.name/2009/02/kita-hanya-disuruh-untuk-berahhlak-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 03:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[akhlah]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[kalender suku maya]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hasanudin.name/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Sangat membuat penasaran ketika kita dihadapkan pada hal yang jauh dalam jangkauan akal kita. Ketika ada orang yang membuat ramalan, dengan berbagai alasan, kita mencari tahu tentang apa yang akan terjadi pada kita lewat ramalan itu, sebagaimanapun orang lain melarang untuk melakukannya. Dalam beberapa waktu terakhir ramai dibincangkan tentang kalender bangsa maya yang menyebutkan dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat membuat penasaran ketika kita dihadapkan pada hal yang jauh dalam jangkauan akal kita. Ketika ada orang yang membuat ramalan, dengan berbagai alasan, kita mencari tahu tentang apa yang akan terjadi pada kita lewat ramalan itu, sebagaimanapun orang lain melarang untuk melakukannya.</p>
<p>Dalam beberapa waktu terakhir ramai dibincangkan tentang kalender bangsa maya yang menyebutkan dunia akan berakhir pada sekitar tahun 2012, saya jadi ingat pesan bapakku yang intinya;  &#8221;<em>gak usah lah kau tahu tentang masa depan, kita hanya disuruh untuk berakhlak baik di dunia ini</em>.&#8221;  pesan yang sederhana, tapi cukup mengena.</p>
<p><span id="more-68"></span>Memang sepanjang yang aku ingat dari almarhum, beliau tidak pernah memaksa atau marah tentang sesuatu kecuali berhubungan dengan akhlak. Seperti contoh kecil meninggalkan pintu terbuka, dia selalu bilang &#8220;<em>Siga oray wae lalar liwat teh tara nutup panto.</em>&#8221; atau dalam bahasa indonesianya &#8220;Kamu seperti ular saja melewati pintu tanpa menutupnya kembali&#8221;.  Di rumah kami pintu jarang di biarkan terbuka, selain angin yang bisa masuk selain ke rumah juga ke badan kami, juga berbagai binatang peliharaan bisa masuk untuk menikmati fasilitas di rumah kami.</p>
<p>Makin bertambahnya umurku, makin bertambah pula tanggung jawab yang dipegang, dari keluarga hingga kerjaan pesan itu bagaikan penuntun yang selalu setia mendampingi, <em>berakhlaklah yang baik!</em></p>
<p>Termasuk dalam menyikapi hal yang sedahsyat perbincangan akhir waktu suku maya, tapi bagaimanapun, pengetahuan harus tetap dicari. Saya sudah coba telusuri tentang hal tersebut di internet, mungkin nanti ada kesempatan untuk menulisnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hasanudin.name/2009/02/kita-hanya-disuruh-untuk-berahhlak-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemandangan Sungai di Desa</title>
		<link>http://www.hasanudin.name/2009/01/pemandangan-sungai-di-desa/</link>
		<comments>http://www.hasanudin.name/2009/01/pemandangan-sungai-di-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 14:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedenhasanudin.wordpress.com/2009/01/30/pemandangan-sungai-di-desa/</guid>
		<description><![CDATA[Orang bijak banyak yang bilang bahwa cobaan adalah Kasih Sayang Allah, dan saya pun menganggap demikian. Banyak contoh yang mendukung hal itu, tapi terkadang yang menjalaninya akan terasa berat dan tidak kadang pula kita terjebak dalam kesedihan yang berkelanjutan. Semua kita berharap semua cobaan yang menimpa semua diantara kita bisa dihadapi dan disikapi sebagai kasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang bijak banyak yang bilang bahwa cobaan adalah Kasih Sayang Allah, dan saya pun menganggap demikian. Banyak contoh yang mendukung hal itu, tapi terkadang yang menjalaninya akan terasa berat dan tidak kadang pula kita terjebak dalam kesedihan yang berkelanjutan.
</p>
<p>Semua kita berharap semua cobaan yang menimpa semua diantara kita bisa dihadapi dan disikapi sebagai kasih sayang Allah, yang nantinya akan diganti dengan kenikmatan yang lain, yang lebih besar, Amiin.</p>
<p>Saya jadi inget filosofi yang pernah saya perbincangkan dengan salah satu teman, filosofi pemandangan sungai di desa. Kami, waktu itu sempat satu pesawat ke sebuah kota di di kepulauan sulawesi, naik pesawat foker yang terbang tingginya hanya beberapa meter diatas pohon kelapa. Keunikan lain dari pesawat itu adalah ada asbak rokok di setiap kursinya, dan asbak itu berisi puntung ketika kami naik. Sudah dapat dipastikan, gak ada tempat duduk yang diatur, jika ingin mendapatkan tempat yang enak, Anda sedikit memerlukan otot untuk berlomba. Untung waktu itu kami ditemani orang pribumi sebagai pengatur perjalanan.
</p>
<p><span id="more-46"></span>
<p>
Raungan mesin baling-baling di kedua sisi cukup memekakan telinga, tapi lumayan terobati dengan keindahan alam disana, bukit-bukit dan pepohonan kelapa yang berjejer diselingi sabana yang ditumbuhi rumput-rumput liar, dan aliran sungai yang berliku-liku membuat kami takjub dengan ciptaan sang Maha Pencipta.
</p>
<p>
Dari sekian banyak pemandangan yang menyentuh, salah satu yang kami komentari adalah indahnya liukan-liukan sungai yang mengalirkan air dari hulu yang berada di gunung ke hilir yang bermuara di lautan. Ya, memamg indah, tapi si pendamping kami bercerita bahwa sungai-sungai di daerah sana banyak binatang buas yang siap memangsa. Saya jadi membayangkan kalau saja saya berada disungai itu dan bertemu dengan para penguasa sungai si binatangbuas  tersebut, tentu saya akan merasakan hal yang berbeda.
</p>
<p>
Cerita diatas tidak ada bedanya dengan hidup kita, jika kita memandang keseluruhan hidup sebagai sungai yang indah yang kami lihat dari atas pesawat tadi, dengan mengesampingkan fasilitas pesawat foker tersebut tentunya, maka kita akan melihat sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita. Saya ambil contoh diri saya, dari kecil di besarkan di kapung yang melihat mobil saja merupakan kedahsyatan yang sangat, sampai bisa bersekolah di poltek, dan sampai sekarang bisa berkantor di pusat ibu kota jakarta, tentu ini merupakan hidup yang indah. Tapi, jika saya berada di suatu titik dimana saya dirundung masalah, atau dalam filosofi diatas saya sedang berhadapan dengan binatang buas, tentu saya tidak bisa melihat keindahan ini, yang saya fikirkan adalah masalah yang sedang dihadapi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hasanudin.name/2009/01/pemandangan-sungai-di-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Keinginan Bertemu dengan Waktu</title>
		<link>http://www.hasanudin.name/2009/01/ketika-keinginan-bertemu-dengan-waktu/</link>
		<comments>http://www.hasanudin.name/2009/01/ketika-keinginan-bertemu-dengan-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 08:14:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedenhasanudin.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Semua manusia pasti mempunyai keinginan tanpa memandang bisa terlaksana atau tidak. Mereka berdatangan tanpa mengenal waktu, tidak bisa diprediksi apalagi di rencanakan. Keinginan layaknya angin bertiup, dia bisa mengalir begitu saja. Adakalanya juga keinginan tersebut berjalan perlahan dan adakalanya dia mengamuk bagaikan angin topan. Bagi orang-orang yang tidak bisa menahannya, mereka akan terperosak pada dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua manusia pasti mempunyai keinginan tanpa memandang bisa terlaksana atau tidak. Mereka berdatangan tanpa mengenal waktu, tidak bisa diprediksi apalagi di rencanakan.</p>
<p>Keinginan layaknya angin bertiup, dia bisa mengalir begitu saja. Adakalanya juga keinginan tersebut berjalan perlahan dan adakalanya dia mengamuk bagaikan angin topan. Bagi orang-orang yang tidak bisa menahannya, mereka akan terperosak pada dunia penjajahan dalam hidupnya.</p>
<p>Seorang yang tidak mempunyai apa-apa rela mempertaruhkan semuanya, bahkan nyawanya sendiri untuk keinginannya. Dan orang yang telah mempunyai apapun sanggup menaruhkan semuanya untuk sang keinginan.</p>
<p><span id="more-34"></span>Seorang pialang saham sedang terbaring di rumah sakit jiwa karena keinginannya untuk menguasai dunia. Seorang pengangguran habis dikeroyok masa ketika kepergok sedang akan menggondol motor, bahkan seorang anak rela bertaruh nyawa untuk bermain di derasnya sungai.</p>
<p>Semuanya berpacu hanya untuk satu hal yang sangat-sangat dekat namun begitu jauh ketika dikejar, Keinginan. Hanya kepada satu hal keinginan itu takluk, ketika dia berhadapan dengan sang Waktu. Semua akan di tentukan, semua akan berakhir ketika dia menempuh dimensi yang sangat jelas dan panjang namun pasti berujung, dimensi waktu.</p>
<p>Ketika keinginan bertemu sang waktu, hanya ada dua pilihan, tersingkir atau terpilih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hasanudin.name/2009/01/ketika-keinginan-bertemu-dengan-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

