Pernah saya mendengar tentang sekumpulan orang yang ke kantor memakai sepeda. Ada yang dari rumah ke kantor dan ada juga dari rumah ke stasiun dan stasiun kantor. Tidak pernah terbayangkan, bahwa akan ada orang yang berkantor di jakarta, bekerja sebagai penyumbang jalur nadi perekonomi negara, dengan kemampuan tidak hanya membeli kendaraan bermotor biasa, bahkan sekelas mobil mewah sekalipun mereka bisa, dan, mereka pergi ke kantor bersepeda! Kalau dulu dikampung mungkin saya maklumi, karena memang begitulah, kendaraan yang ada hanya sepeda, itu juga sudah mewah, kaki adalah kendaraan kami kemana-mana bahkan sampai puluhan kilo.
Saya masih berpikir bahwa mereka yang bersepeda khusus orang-orang yang jarak kantor dan rumahnya hanya beberapa kilo. Kedua kalinya pendapat saya salah, jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke kantor dengan bersepeda ada yang sampai 30 km, jarak yang sangat fantastik bagi orang yang tidak biasa bersepeda. Setelah selesai menempuh jarak setengah dari itu saja mungkin Anda akan terguling ketika turun tangga, otot paha dan bagian dengkul akan terasa lemas ketika Anda mengayuh sepeda dengan jarak sedemikian jauhnya, bagi Anda yang belum terbiasa tentunya.
Pergeseran Nilai
Banyak hal yang telah bergeser dari waktu ke waktu, dulu Pasar identik dengan kumuh, bau dan berantakan. Sekarang pasar yang sudah modern merupakan tempat yang bisa dijadikan tempat jalan-jalan keluarga, tempat yang mempunyai hal yang prestisius ketika kita ke sana, bahkan bisa dijadikan tempat nongkrongnya anak-anak muda.
Pergeseran seperti ini terjadi juga terhadap bersepeda, sekarang sepeda sudah menjadi gaya hidup, naik tingkat dari asalnya alat transportasi sederhana menjadi suatu image yang menempel terhadap orang yang memakainya. Sepeda sekarang bisa dilihat dari berbagai macam aspek yang tidak kalah menarik.
