Detak jam dinding dibelakangku seakan berbicara dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar, tapi bisa aku mengerti maksudnya. Seakan berkata bahwa hari ini adalah hari yang tidak semestinya aku sesali walaupun akan kehilangan sesuatu di tempat kerja ini. Secara tidak sadar beberapa kali aku lihat, jam itu terus berjalan dan perasaan samar itu mengambang seperti awan yang tertiup angin di angkasa. Tidak aku perjelas perasaan itu, aku biarkan dia tersamar.
Bagi kesadaranku hanya kubilang; bahwa hari ini adalah hari perpisahan ditempat ini, itu saja!
Aku hanya mengenalnya beberapa tahun, dan bukan mengenal secara khusus, hanya mengenal sebagai teman. Tapi aku tahu, teman ini bukan teman yang biasa, tapi teman yang memancar dari keikhlasan hati yang sudah menjadi kudrat baginya.
Sedangkan aku, teman yang sampai waktu sekarang hanya memiliki sedikit teman. Kebanyakan orang yang datang dalam hidupku hanya mampir, mengucapkan salam, bercengkrama dan pergi. Bukan salah mereka, bukan salahku juga!
Awalnya aku ingin ungkapkan semua perasaanku, tapi buat apa? Aku fikir. Aku tidak bisa memungkiri bahwa aku telah menjadi aku yang sekarang, yang sudah tentu bukan yang itu. Akhirnya aku ungkapkan dengan caraku sendiri, mencari sesuatu yang mungkin jadi simbol. Seperti biasa, dengan menggunakan caraku sendiri, aku bisa mengalir.
Sudah lama aku menganggap bahwa sesuatu yang aku bisa lakukan kepada orang lain, ditempuh melalui garis kehidupan yang dia tidak sadari dibuatnya sendiri. Kadang aku merasa tidak berdaya ketika aku ingin memberikan lebih, jalanku tersentak, kadang pula aku bisa memberikan hal yang lebih tanpa aku sadari, karena jalanya bergaris dengan sendirinya.
Dengan cara yang kedua itulah aku menemukan simbol dari perasaanku, tidak tersentak tapi bergaris. Sebuah jam tangan!
Dengan kuasa-Nya, Waktu telah mengalir membawamu ke tempat yang lain. Ketempat yang lebih banyak bisa kau lihat. Tapi, disini kau telah meninggalkan lebih dari apa yang kau tahu.
Jakarta, 31 Jan ’08

Leave a Comment