Dalam beberapa bulan terakhir sering aku dengar tentang OCD (Obsessive-compulsive disorder) yaitu penyakit secara psychiatric yang mempunyai obsesi sangat kuat terhadap sesuatu, sehingga dia mengalami gangguan hidup yang tidak semestinya. Bahkan setidaknya ada dua film yang tokoh utamanya mempunyai penyakit tersebut, katakanlah Prison Break dan Monk.
Film-film tersebut jadi menarik karena ternyata penyakit tersebut bukan hanya berdampak negatif bagi penderitanya, tapi justru sebaliknya. Mr. Monk (Adrian Monk) dalam serial Monk mempunyai kelebihan untuk bisa melihat lingkungan dengan jelas, sehingga berbagai kasus kriminal dia bisa selesaikan dengan cerdas. Scoffield dalam Prison Break, bisa mengeluarkan beberapa napi dari penjara yang dijaga ketat, semuanya dia rencanakan sendiri.
Tapi dalam cerita hidupku aku menumukan disorder yang lain, dan saya sebut Driving Safety Distance Disorder. Disorder ini merupakan disorder yang diderita oleh salah seorang sopir omprengan yang setiap pagi aku selalu gunakan untuk berangkat ke kantor. Tapi untungnya sopir yang seperti ini hanya ada satu dari sekian banyak supir omprengan tersebut.
Disorder yang diderita sopir ini cukup unik, yaitu dia mempunyai kebiasaan nyalib mobil dengan jarak yang sangat menghawatirka, dalam bahasa lugasnya sering saya sebut nempel. Bukan hanya sekali atau dua kali, hal ini sering dia lakukan. Bahkan pernah satu saat, mobil yang di kendarainya beradu dengan truk yang dia salib dari sebelah kiri dan menyebabkan “sedikit” benturan antara belakang mobil suzuki carry merah-nya yang berplat nomor B 2300 ?? dengan truk yang dia salib. Keadaan paling naas adalah saya persis ada di bagian yang terbentur itu.
Yang paling mengkhawatirkan adalah dia tidak merasa hal itu sebagai susuatu yang tidak seharusnya, dia sangat tenang melakukannya. Mengambil jalur bahu jalan yang sempit diselingi dengan menabrak rubber con pembatas jalan dia lakukan dengan senyum dan muka bangga.
Mudah-mudahan dia cepat sembuh dari penyakitnya ini, atau ada mahasiswa bagian psikologi yang melakukan riset tentang penyakit ini dan setelah jadi psikolog, mahasiswa tersebut bisa memberikan obatnya untuk diminumnya supaya sembuh.